Kamis 14 Sep 2017 09:34 WIB

Perdagangan Cina-ASEAN Kini Bebas Tarif

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Nur Aini
Ilustrasi - Hubungan ASEAN dan Cina.
Foto: centerforsecuritypolicy.org
Ilustrasi - Hubungan ASEAN dan Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, NANNING -- Cina dan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN telah berhasil memperbarui perjanjian perdagangan bebas China-ASEAN Free Trade Area (FTA). Kedua pihak sepakat untuk menurunkan tarif lebih dari 90 persen sehingga perdagangan barang antara Cina dengan negara-negara di kawasan ASEAN akan menjadi bebas tarif.

Wakil Perdana Menteri Cina Zhang Gaoli mengatakan, surat perjanjian yang memuat kesepakatan baru perdagangan tersebut telah ditandatangani dan siap untuk diimpelentasikan. "Perjanjian ini akan mendorong pengembangan hubungan bilateral ekonomi dan perdagangan," kata Zhang, saat membuka China-ASEAN Expo ke-14 dan China-ASEAN Business and Investment Summit di Kota Nanning, seperti dikutip Xinhuanet, (13/9).

Dalam kesempatan yang sama, Sultan Brueni Darussalam Haji Hassanah Bolkiah mengatakan, implementasi dari perjanjian baru ini akan mempercepat pencapaian target nilai perdagangan antara Cina dan ASEAN sebesar 1 triliun dolar AS pada 2020 mendatang.

Selain menghilangkan hambatan tarif di sejumlah sektor, Cina-ASEAN FTA yang telah diperbarui ini juga memuat poin yang memudahkan prosedur terkait bea cukai serta mendorong lebih banyak perusahaan untuk terlibat dalam perdagangan bebas tersebut.

Saat ini, Cina-ASEAN FTA tercatat sebagai perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia jika dilihat dari jumlah populasi negara-negara yang terlibat. Sejak pertama kali dibentuk, FTA telah memperkuat hubungan dagang Cina dengan ASEAN. Cina sendiri sampai saat ini tercatat mitra dagang terbesar bagi ASEAN selama delapan tahun terakhir. Sementara bagi Negeri Cina, ASEAN adalah mitra dagang ketiga terbesar dalam enam tahun terakhir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement