Rabu 18 Oct 2017 08:58 WIB

Pariwisata Ditargetkan Jadi Penyumbang Devisa Terbesar

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Elba Damhuri
Taman Wisata Alam Gunung Tunak, Lombok, NTB.
Foto: Republika/M Nursyamsyi
Taman Wisata Alam Gunung Tunak, Lombok, NTB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa utama dalam dua tahun ke depan. Dengan kata lain, pemasukan melalui sektor ini akan mengalahkan pendapatan dari minyak kelapa sawit (CPO) serta minyak dan gas (migas) yang selama ini mendominasi devisa Indonesia.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, pada 2014 sektor pariwisata masih menjadi nomor empat sebagai penyumbang terbesar devisa negara dengan 10,05 miliar dolar AS atau Rp 135,67 triliun (Rp 13.500 per dolar AS) berada di bawah devisa dari minyak dan gas (migas) di posisi pertama, kemudian batu bara, dan CPO.

Namun, pada 2016 nilai pendapatan dari sektor pariwisata mampu duduk di peringkat kedua dengan 13,56 miliar dolar AS di bawah CPO yang berhasil meraih 15,96 miliar dolar AS. Sektor migas justru harus turun di posisi ketiga karena nilai jual komoditas ini sempat anjlok dalam beberapa tahun terakhir.

"Sekarang, CPO juga mulai turun dan pariwisata terus baik. Maka, kita yakin, pariwisata akan terus menambah sejalan dengan pertumbuhan jumlah wisatawan. Pasti, pada 2018-2019 ini pariwisata sudah menjadi penghasil devisa terbesar," kata Arief dalam pemaparan tiga tahun Jokowi-JK, Selasa (17/10).

Arief menuturkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) menjadi target utama Kemenpar dalam menggenjot penambahan pendapatan. Dari 10 juta wisman pada 2015, tahun ini pemerintah menargetkan ada 15 juta wisman. Angka ini ditargetkan tumbuh dua juta wisman pada 2018 dan kemudian menjadi 20 juta wisman pada 2019.

Untuk memberikan pelayanan yang baik bagi para wisman, selain memperbaiki dan membangun sejumlah infrastruktur penunjang tempat pariwisata, seperti rumah makan dan penginapan, Kemenpar juga menargetkan adanya perbaikan sumber daya manusia (SDM). Sebab, melalui sektor pariwisata tumbuh lapangan pekerjaan baru yang berhubungan maupun tidak berhubungan secara langsung dengan wisman.

"Kita akan berupaya melakukan sertifikasi SDM di sektor pariwisata hingga 500 ribu pada 2019," ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, dengan devisa dari sektor pariwisata sepanjang tahun lalu mencapai 11,3 miliar dolar AS, masih jauh dibandingkan Thailand yang mencapai 49,9 miliar dolar AS dan juga negara tetangga Malaysia 18,1 miliar dolar AS.

"Kalau dibandingkan dengan negara lain yang jumlah turisnya tiga kali lipat kita, seperti Thailand, jumlah turis yang masuk 27 juta sampai 30 juta dibanding kita tahun lalu 12 juta. Tahun ini, mudah-mudahan 15 juta," ujar Mirza saat Regional Investment Forum (RIF) di Padang, Senin (17/10).

Dengan semakin bertambahnya jumlah turis mancanegara yang masuk ke Indonesia, lanjut Mirza, diharapkan jumlah cadangan devisa juga akan meningkat.

Potensi devisa dari sektor pariwisata sendiri diperkirakan mencapai Rp 260 triliun. Artinya, sektor tersebut akan menjadi penghasil devisa terbesar bagi Indonesia di masa-masa mendatang. (Editor: Ichsan Emrald Alamsyah).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement