Sabtu 30 May 2020 18:04 WIB

Harga Kopi Arabika Tingkat Petani di Kabupaten Solok Anjlok

Sejak kasus pandemi Covid-19, peminat kopi terus berkurang.

Petani menjemur kopi arabika yang baru dipanen (ilustrasi)
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Petani menjemur kopi arabika yang baru dipanen (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Petani kopi di Kenagarian Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, mengeluhkan harga kopi jenis arabika yang anjlok hanya Rp 4.500 per kilogram. Padahal harga sebelum wabah Covid-19 masih mencapai Rp 8.000 per kilogram.

"Harga kopi tersebut mulai anjlok sejak tiga bulan terakhir. Sejak kasus pandemi Corona Virus Disaese (Covid-19) peminat kopi terus berkurang dan menyebabkan harga kopi menurun drastis," kata seorang petani kopi Novermi (25), saat dihubungi dari Padang, Sabtu (30/5).

Baca Juga

Ia mengakui telah mengalami kerugian mencapai 90 persen. Hal itu disebabkan karena anjloknya harga biji kopi petik dalam bentuk cherry atau kopi merah jenis arabika. Sehingga tidak sebanding dengan biaya pengeluarannya ketika panen.

Ia menyebutkan luas kebun kopi miliknya sekitar 11 hektare. Bahkan biasanya dalam sekali panen mencapai satu ton kopi. Sehingga tidak bisa memetik sendiri dan diupahkan untuk memetiknya ke orang lain.

"Tidak ada lagi keuntungan, bahkan hasil panen tidak sebanding dengan upah kerja pemetik. Sedangkan upah kerja untuk satu orang pemetik mencapai Rp 60 ribu per hari," kata dia.

Lebih lanjut petani lainnya Buyuang (40) mengatakan biasanya pemetik hanya mampu memetik kopi sekitar 20 kilogram dalam sehari untuk satu orang pemetik. "Untuk saat ini kami tidak sanggup mengupahkannya ke orang lain. Untuk pemetikan kopi kami angsur saja bersama anak-anak," kata dia.

Kebetulan saat ini anak-anaknya tengah libur sekolah, sehingga bisa membantunya untuk memanen kopi, kata dia. Biasanya, kata dia, selain pemetikan kopi, ia juga mengupahkan ke orang lain untuk perawatan, penyiangan, dan pemupukannya. Karena lahannya yang cukup luas dan tidak bisa dikerjakan sendiri.

"Namun sekarang terpaksa harus dikerjakan sendiri karena tidak sanggup mengupahkannya orang lain. Bahkan terpaksa ladang kopi dibiarkan saja ditumbuhi semak belukar," kata dia.

Lebih lanjut ia menyebutkan penjualan gabah kopi lumayan mahal dari penjualan biji kopi merah yang dipetik langsung. Biasanya sampai Rp 28 ribuper kilogram. Namun sekarang juga turun drastis menjadi Rp 15.500 per kilogram. "Akan tetapi, saya lebih sering menjual biji kopi merahnya langsung," ujar dia.

Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan harga kopi kembali naik di pasaran. Dengan demikian dapat menutupi kerugiannya selama ini.

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement