Senin 26 Oct 2020 13:07 WIB

Demonstrasi Meletus di Israel Memprotes Presiden Macron

Ratusan orang berunjuk rasa di luar kediaman duta besar Prancis untuk Israel

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Christiyaningsih
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Demonstrasi dilakukan sebagai reaksi atas komentar Presiden Emmanuel Macron menyoal kartun Nabi Muhammad SAW. Ilustrasi.
Foto: EPA-EFE/LUDOVIC MARIN
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Demonstrasi dilakukan sebagai reaksi atas komentar Presiden Emmanuel Macron menyoal kartun Nabi Muhammad SAW. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Ratusan orang melakukan unjuk rasa di luar kediaman duta besar Prancis untuk Israel pada Sabtu malam kemarin. Demonstrasi itu dilakukan sebagai reaksi atas komentar Presiden Emmanuel Macron menyoal kartun Nabi Muhammad SAW.

Dari pantauan, para pengunjuk rasa menerapkan protokol kesehatan Covid-19 saat berunjuk rasa. Mereka mengenakan masker selain membawa spanduk berbahasa Arab yang bertuliskan Nabi Muhammad.

Baca Juga

Demonstrasi itu dilakukan selepas Isya di distrik Jaffa yang sebagian besar merupakan keturunan Arab di Tel Aviv. Salah satu demonstran, Amin Bukhari, menuduh Macron memainkan permainan "ekstrem kanan".

"Nabi Muhammad adalah orang yang paling suci dalam Islam dan siapa pun yang menyerang kehormatannya, menyerang seluruh Muslim,’’ katanya kepada orang banyak dikutip dari Ynetnews, Senin (26/10).

Berbicara di luar kediaman resmi duta besar Prancis Eric Danon, Bukhari berkata saling menghormati adalah pilihan utama. "Kita harus menghormati Musa di antara orang-orang Yahudi, kita harus menghormati Yesus Kristus yang adalah nabi kita juga, dan kita harus menghormati Nabi Muhammad SAW," katanya.

Demonstrasi itu berjalan lancar tanpa ada insiden. Tak hanya demonstrasi di negara-negara Arab dan Israel, seruan untuk memboikot barang-barang Prancis juga berkembang di dunia Arab dan sekitarnya sebagai tanggapan atas komentar Macron.

Kelompok Islam di Jalur Gaza, Hamas, termasuk di antara mereka yang mengutuk komentar Macron. "Menghina agama dan nabi bukanlah masalah kebebasan berekspresi, tapi lebih pada mempromosikan budaya kebencian," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement