Senin 12 Jul 2021 13:33 WIB

Ribuan Warga Kuba Turun ke Jalan Protes Krisis Ekonomi

Lebih dari 50 demonstrasi terjadi di sejumlah kota di Kuba hingga Ahad malam

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih
Ribuan warga Kuba turun ke jalan dan menggelar demonstrasi menentang krisis ekonomi pada Ahad (11/7).
Foto: EPA/Ernesto Mastrascusa
Ribuan warga Kuba turun ke jalan dan menggelar demonstrasi menentang krisis ekonomi pada Ahad (11/7).

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA – Ribuan warga Kuba turun ke jalan dan menggelar demonstrasi menentang krisis ekonomi pada Ahad (11/7). Aksi itu merupakan protes terbesar di negara berideologi komunis dalam beberapa dekade terakhir.

Aksi protes tampaknya dimulai di pusat kota Kuba, San Antonio de los Banos, kemudian menyebar ke daerah lain. Menurut Inventario, sebuah situs web yang didedikasikan untuk data tentang Kuba, lebih dari 50 demonstrasi terjadi di sejumlah kota di sana hingga Ahad malam waktu setempat.

Baca Juga

Di ibu kota Havana, ribuan warga berbaris menyusuri jalan-jalan seraya memekikkan kata “kebebasan”. Mereka berjalan dari Malecon hingga ke Santiago de Cuba di ujung tenggara negara tersebut. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengatakan Presiden Miguel Diaz-Canel telah melakukan perjalanan ke San Antonio de los Banos sebagai respons atas demonstrasi.

“Kami orang Kuba tahu betul Pemerintah Amerika Serikat (AS) adalah penanggung jawab utama atas situasi saat ini di Kuba. Kuba dan jalan-jalannya adalah milik kaum revolusioner,” kata Miguel Diaz-Canel lewat akun Twitter pribadinya.

Direktur Eksekutif Human Rights Watch Divisi Amerika Jose Miguel Vivanco mengungkapkan pihaknya telah menerima laporan dan keluhan tentang penangkapan sewenang-wenang terhadap para pengunjuk rasa. “Ribuan orang Kuba ingin hidup lebih baik dan dengan kebebasan dasar. Menghadapi klaim yang adil itu, tampaknya, sekali lagi, (Diaz-Canel) hanya mampu merespons dengan represi,” kata Vivanco dikutip dari laman United Press International.

Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika mengatakan pihaknya juga telah menerima laporan tentang penggunaan kekuatan, penangkapan, dan serangan terhadap pengunjuk rasa serta jurnalis, termasuk pemutusan jaringan internet. Aksi protes di Kuba terjadi saat negara tersebut menghadapi kontraksi ekonomi yang terpukul keras akibat pandemi. Sejauh ini, Kuba telah mencatatkan 238 ribu kasus Covid-19 dan 1.537 kematian.

Pandemi telah menyebabkan aktivitas perekonomian di sana lesu. Saat ini warga Kuba harus mengantre panjang untuk membeli barang-barang pokok. Sebagian lainnya memutuskan melarikan diri.

Menurut U.S. Coast Guard, sejak 1 Oktober 2020 pihaknya telah mencegat 554 warga Kuba. Jumlahnya meningkat signifikan jika dibandingkan pada 2019 yang hanya berjumlah 49 orang.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement