Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Senat AS Desak Donald Trump Jatuhkan Sanksi untuk Arab Saudi

Kamis 29 Nov 2018 16:08 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Donald Trump

Donald Trump

Foto: EPA-EFE/NEIL HALL
Banyak anggota Senat pendukung Trump kecewa dengan Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Senator Amerika Serikat (AS) semakin mendesak Presiden AS Donald Trump untuk memberikan sanksi kepada Arab Saudi atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Mereka dengan tegas menentang Trump yang bersikeras mempertahankan Arab Saudi sebagai sekutu dekatnya.

Dalam pemungutan suara, Kamis (29/11), sebanyak 63 anggota Senat memilih agar AS menarik diri dari keterlibatan mereka mendukung Arab Saudi di perang Yaman. Sementara, 37 anggota legislatif lainnya menentang keputusan itu. Pemungutan suara suara itu tidak hanya teguran kepada Arab Saudi tapi juga pemerintahan Trump.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan James Mattis datang ke Capitol Hill untuk melobi melawan resolusi tersebut. Resolusi yang meminta AS mengakhiri bantuan militer ke perang yang menurut para aktivis hak asasi manusia telah menghancurkan Yaman dan menargetkan warga sipil.

Pemungutan suara itu juga menunjukkan banyak anggota partai Republik yang mengusung Trump sebagai presiden, kecewa dengan Arab Saudi dan tanggapan pemerintah AS atas pembunuhan Khashoggi di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Badan Intelijen AS (CIA) sudah memberikan penilaian mereka tentang kasus tersebut.

Menurut CIA, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi itu dianggap mengetahui rencana pembunuhan Khashoggi pada 2 Oktober lalu.

Namun, Trump yakin putra mahkota tidak mengetahui tentang rencana pembunuhan tersebut. Khashoggi yang tinggal di AS kerap mengkritik pemerintahan Mohammed bin Salman. Ia dibunuh di kantor konsulat Arab Saudi saat ingin mengambil dokumen yang akan dia gunakan untuk pernikahannya.

Pompeo dan Mattis pun berusaha membela keyakin Trump tersebut. Kepada anggota Senat, Pompeo mengatakan tidak ada 'laporan yang mengarah' keterlibatan putra mahkota dalam pembunuhan ini. Mattis mengatakan tidak ada 'asap mesiu' yang membuat Mohammed bin Salman terkait dengan pembunuhan Khashoggi.

Pompeo juga mengatakan perang di Yaman bisa menjadi 'neraka yang lebih buruk' jika AS tidak terlibat di dalamnya. Senator AS berencana mulai melakukan floor debate (sidang) untuk membahas resolusi itu pekan depan, yang akan menjadi pergerakan simbolis yang sangat berarti.

Namun, pemimpin House of Representative dari yang masih dikuasai partai Republik sampai akhir tahun nanti tidak memberi syarat mereka tidak akan menentangnya. Beberapa senator mengatakan mereka marah karena Direktur CIA Gina Haspel tidak datang saat rapat sebelum pemungutan suara di mulai.

Komite Hubungan Luar Negeri senator dari partai Demokrat Bob Menendez, berspekulasi alasan tidak datangnya Haspel ke Capitol Hill. "Karena ia akan mengatakan memiliki kepercayaan yang sangat tinggi putra mahkota Arab Saudi terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi," kata Menendez.

Senator dari partai Republik yang kerap membela Trump, Lindsey Graham memilih mendukung resolusi tersebut. Graham mengatakan ia ingin mendesak Haspel untuk melakukan rapat.

Baca: Senator AS Ingin Hentikan Bantuan ke Saudi di Perang Yaman

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA