Masyarakat Dipermudah Mengurus Biometrik Umrah dan Haji
Kamis , 01 Nov 2018, 08:00 WIB

Antara/Sahrul Manda Tikupadang
Calon haji Makassar yang tergabung kelompok terbang (kloter) 1 Embarkasi Makassar menjalani perekaman Biometrik di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (16/7).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Suasana riuh rendah nampak di salah satu pusat pelayanan pengurusan visa Arab Saudi di Jakarta. Ada yang tak biasa di sini. Beberapa orang mengantre untuk bertanya ke petugas mengenai cara mengurus biometrik atau rekam sidik jari dan wajah.

Sejak Kerajaan Arab Saudi (KAS) memberlakukan biometrik untuk visa umrah dan haji, masyarakat langsung menyerbu VFS Tasheel, pusat pelayanan biometrik dan visa untuk Arab Saudi. Salah satunya adalah Meidina, pemilik agen travel Bayu Buana. Perempuan berusia 32 tahun ini datang ke VFS Tasheel mengurus biometrik untuk para kliennya. "Ini hari pertama saya mencoba mengurus biometrik, saya coba sendiri ternyata mudah," katanya dalam keterangan yang di dapat Republika.co.id, Kamis (1/11).

 

Sebelum KAS memberlakukan biometrik prapengurusan visa, biasanya Meidina akan mengirimkan dokumen di dekat kantor kedutaan besar Arab Saudi di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Dokumen tersebut, katanya, harus pula dilegalisir. Prosesnya memakan waktu tiga hingga lima hari kerja.

Mediana sangat setuju dengan pemberlakuan biometrik ini. Menurutnya, dengan diurusnya biometrik sebelum keberangkatan, paling tidak orang yang akan umrah atau haji tidak akan mengantre panjang di bandara.

 

Namun, ia meminta sosialisasi terkait biometrik ini harus lebih masif lagi. Pasalnya, banyak yang tidak tahu perihal ini. Apalagi, orang yang bersangkutan harus datang langsung untuk mengurus biometrik. "Kalau mereka tidak tahu, kan kasihan," ucapnya.

 

Setali tiga uang dengan Meidina, warga lain yang juga mengurus biometrik, Trimurti, mengaku proses mengurus biometrik cukup cepat. "Saya tahu dari rombongan umrah ibu-ibu tentang biometrik ini, akhirnya saya coba dan ternyata mengurusnya mudah," kata perempuan berusuia 64 tahun ini.

 

Sebelumnya, Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia, melalui akun resmi Twitter mereka, mengumkan terhitung sejak 24  Oktober 2018, semua pengajuan visa ke negara itu harus menyertakan rekam biometrik.

"Kedutaan Arab Saudi di Jakarta memberitahukan kepada Anda bahwa mulai tanggal 14/1/1440 H bertepatan dengan 24/09/2018 M akan memberlakukan registrasi biometrik (sidik jari dan gambar wajah) untuk keperluan semua jenis layanan visa masuk ke Kerajaan Arab Saudi," dikutip di akun //Twitter resmi kedutaan Arab Saudi.

Dalam unggahan itu juga disebutkan layanan tersebut dapat dilakukan melalui kantor layanan visa dan bio fitur 'VFS/TasHeel' yang memiliki 34 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia. VFS dianggap mampu karena telah memiliki pengalaman dalam perekaman sidik jari lebih dari enam tahun. VFS juga sudah berpengalaman dalam pengembangan paspor diplomasi dan khususnya dalam perekaman sidik jari yang berkaitan dengan paspor.

"Dengan demikian, mampu memberikan layanan bagi yang berkeinginan untuk memperoleh visa karena masih memiliki waktu yang cukup untuk melakukan registrasi sidik jari," lanjut unggahan tersebut.

Redaktur : Andi Nur Aminah
Reporter : Zahrotul Oktaviani

BERITA LAINNYA