Makkah Tanah Suci, Penduduknya Tidak!
Jumat , 26 Aug 2016, 04:51 WIB

Republika/M Subarkah/ca
Dua orang jamaah haji asal Indonesia tertidur lelap di pelataran Masjidil Haram, Makkah.

"Pahamilah dengan baik: Makkah itu memang tanah suci, tapi warga atau penduduknya tidak. Maka diharap waspada!" Nasihat KH Hasyim Muzadi di sebuah sore beberapa hari terakhir menjelang pelaksanaan ibadah puncak haji, yakni wukuf di Arafah, mabit di Muzdalihaf, dan melempar jumrah di Mina terngiang kembali. Nasihat mantan ketua umum PBNU beberapa tahun silam saat menjabat sebagai amirul haj dituturkan pada sebuah perbincangan ringan di kantor Daker Makkah yang berada di wilayah Sisyah, Makkah.

"Jadi jamaah haji jangan terkecoh penampilan. Jangan pula menganggap orang yang berada di Makkah itu baik semua. Hati-hati,’’ ujar Abah Hasyim, panggilan akrab KH Hasyim Muzadi.

Kala itu para petugas haji memang mendapat laporan mengenai banyaknya peristiwa penipuan yang menimpa para calon haji. Abah Hasyim pun oleh para wartawan diminta komentarnya mengenai munculnya aksi kejahatan tersebut, terutama terkait sebuah peristiwa sepasang suami-istri asal Nusa Tenggara Barat yang melaporkan kehilangan uang dalam jumlah yang lumayan (sekitar Rp 30 juta) ketika berada di pelataran Masjidil Haram.

Kisahnya begini. Pada sebuah siang menjelang waktu Zhuhur sepasang suami-istri calon haji asal Sumbawa itu sampai di pelataran Masjidil Haram. Keduanya berniat ingin melakukan shalat berjamaah di dekat Ka’bah. Namun, karena tempat shalat laki-laki dan perempuan terpisah, keduanya pun mencari tempat shalat yang berbeda. Sekilas keduanya ragu ketika akan berpisah karena sama-sama takut tersesat jalan, terutama ketika harus pulang ke pemondokan.

Nah, di tengah keraguan tersebut, tiba-tiba ada seorang lelaki asal Indonesia menyapanya. Mereka makin terkejut karena lelaki itu menyapanya dengan bahasa daerah asalnya: Sumbawa. Akhirnya, terjadi perbincangan yang hangat sepasang suami-istri ini kemudian terlibat dalam perbincangan yang hangat dengan memakai bahasa mereka.

Perbincangan semakin akrab karena kemudian lelaki menyebut asal-usulnya yang juga dari Pulau Sumbawa. Sepasang suami-istri itu pun terpesona kepada lelaki yang baru dikenalnya. Tanpa sungkan, sang suami kemudian mengeluhkan perasaannya karena takut istrinya tersesat di Makkah. Katanya: "Kalau sampai terpisah, istri saya tak bisa pulang ke pondokan.”

Mendengar keluhan itu, lelaki Sumbawa itu pun tersenyum. Sesaat kemudian ia menjawab sembari berkata: ”Sudahlah, Pak, jangan khawatir. Saya tungguin Bapak di sini. Silakan saja Ibu masuk ke dalam masjid dulu. Nanti selepas shalat, cari saya di sini,’’ sahut lelaki itu. Maka sang istri pun masuk ke dalam masjid terlebih dahulu meninggalkan suami dan lelaki asal Sumbawa itu di pelataran.


Redaktur : Muhammad Subarkah

BERITA LAINNYA