Clock Magic Wand Quran Compass Menu

Jangan Pasung Penderita Skizofrenia

Red:

Penderita skizofrenia masih dianggap sebagai  orang  yang harus disingkirkan. Karena, jika diketahui oleh banyak orang, terutama kerabat, akan menjadi omongan dan merendahkan martabat keluarga.

 

Sponsored
Sponsored Ads

Keyakinan itu pula terjadi pada masyarakat Gunung Kidul, Yogyakarta. Saat ini tercatat  sedikitnya 31  penderita penyakit gangguan jiwa berat atau skizofrenia dipasung oleh keluarganya.

Scroll untuk membaca

Seksi Publikasi Persatuan Dokter Spesialis Kejiwaan Yogyakarta Ida Rochmawati mengatakan, dampak gangguan jiwa berat yang tidak tertangani oleh keluarganya adalah pemasungan. "Padahal, masalah pemasungan sebenarnya merupakan pelanggaran hak asasi manusia," katanya, di Gunung Kidul, pekan lalu.

Berdasarkan data Rumah Sakit Jiwa (RSJ)  Grhasia, pada 2012-2014 di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat 72 orang yang dipasung dan yang ditangani oleh pihak kesehatan 34 orang. Sementara untuk Gunung Kidul terdapat 31 kasus. "Yang sudah dijemput dan dibebaskan sudah ada 16 orang," katanya.

Sebanarnya, kata dia, berbagai upaya  sudah dilakukan untuk mengurangi angka pemasungan, namun dalam beberapa tahun belakangan ini kembali meningkat. Hal ini disebabkan, antara lain,  karena ketidaktahuan  masyarakat, sukarnya akses mendapatkan pengobatan, serta mahalnya biaya  berobat. "Munculnya kembali kasus pasung disebabkan ketidaktahuan masyarakat mengenai penanganan penderita skizofrenia," papar dokter ini.

Menurut Ida, ada berbagai penyebab mengapa pihak keluarga masih memilih pasung untuk menangani penderita ganguan jiwa berat.  Di antaranya, sering dikaitkan dengan hal-hal supranatural, merupakan aib, atau dinilai tidak dapat disembuhkan, bahkan dianggap kriminal.

"Pengalaman saya menangani pasien yang datang rata-rata sudah akut, bahkan sebagian di antaranya sudah datang ke paranormal," kata dia.

Selain itu, sebagian besar masyarakat masih enggan mengunjungi dokter spesialis jiwa, karena takut dianggap memalukan. Padahal, sebenarnya kedatangan ke dokter jiwa tidak hanya untuk penyakit jiwa berat, tetapi juga gangguan jiwa yang lain, seperti cemas, depresi, bipolar, psikosomatik, serta gangguan jiwa pada anak dan remaja.

Ida menambahkan, faktor terakhir ialah minum obat dianggap menyebabkan kecanduan, sehingga sebagian masyarakat takut untuk mengonsumsi obat.

Menurut dia, seperti dikutip Antara, beberapa keyakinan  tersebut menjadi penghambat penderita gangguan jiwa untuk mendapatkan pertolongan sedini mungkin.

"Masyarakat harus memiliki pengetahuan bahwa  kesehatan jiwa juga merupakan problem klinis medis yang bisa diobati," kata Ida. Ia berharap momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang mengusung  tema Living with Schizophrenia bisa membuka kesadaran masyarakat untuk lebih peduli pada sesama. Ed:khoirul azwar

Berita Terkait

Berita Terkait

Rekomendasi

Republika TV

>

Terpopuler

>
Floating Button
Aiman & Aisha Sahabat Belajar Agama Islam

Ask me!