Senin 09 Mar 2020 18:49 WIB

3 Potret Kehangatan Rasulullah SAW dengan Para Sahabatnya

Rasulullah SAW bersikap hangat dengan para sahabatnya.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah
Rasulullah SAW bersikap hangat dengan para sahabatnya. Rasulullah SAW (ilustrasi) (Republika/Kurnia Fakhrini)
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Rasulullah SAW bersikap hangat dengan para sahabatnya. Rasulullah SAW (ilustrasi) (Republika/Kurnia Fakhrini)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Nabi Muhammad SAW  merupakan manusia yang terpelihara dari dusta. Apa yang disampaikannya selalu mengandung hikmah dan suatu kebenaran termasuk pada saat berkelakar dengan para sahabatnya untuk menghibur hati yang duka.

Dikisahkan dalam kitab Asy Syamail Al  Muhammadiyyah karangan Imam At Tirmidzi, seorang anak kecil menangis karena kehilangan mainannya seekor burung. Melihat anak kecil sedih Rasulullah mendekatinya dan berkata.

Baca Juga

"Wahai Abu Umar, apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu," kata Rasulullah seperti diriwayatkan Hannad bin As Sariyyi dari Waki’ dari Syubah dari Abu Tayyah yang bersumber dari Anas bin Malik RA.

Mendengar pertanyaan terhadap anak kecil yang kehilangan seekor burung itu sahabat lain bertanya kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah apakah Anda suka bergurau kepada kami?"

Rasulullah bersabda "Benar, hanya saja apa yang kukatakan tidak lain hanyalah kebenaran," jawab Rasulullah seperti diriwayatkam Abbas bin Muhammad Ad Duri dari Ali bin Al Hasan bin Syaqiq dari Abdullah bin Al Mubarak dari Usamah bin Zaid dari Said Al Maqbari yang bersumber dari Abu Hurairah RA. 

Imam Tirmidzi menjelaskan, maksud hadis di mana Rasulullah memanggil anak kecil yang menangis karena kehilangan mainannya dengan panggilan wahai Abu Umar atau Wahai bapaknya Umair itu sebagai kelakar Rasulullah. 

Pada hadis ini pun terdapat suatu hukum bahwa memberi mainan kepada anak-anak berupa burung tidak apa-apa. 

Hadis ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW ingin menghibur anak yang sedang berduka cita itu dengan menyampaikan. "Apa yang dapat dikerjakan burung sekecil itu sehingga membuatmu menangis." 

Contoh kehangatan Rasulullah SAW yaitusuatu ketika ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah SAW agar dia dibawa naik kendaraan. Rasulullah SAW pun bersabda. "Baik aku akan membawamu di atas anak unta betina!" 

Mendengar perkataan tesebut laki-laki itu sedikit protes dan berkata "Wahai Rasulullah apa yang dapat kulakukan dengan anak unta betina itu?"

Dengan tenang Rasulullah kembali menjawab dengan mantap seraya memberikan pengetahuan dasar yang kadang dilipukan.  

"Bukankah yang melahirkan unta itu unta betina?" kata Rasulullah seperti diriwayatkan Qutaibah bin Sa'id dari Khalid bin Abdullah dari Humaid yang bersumber dari Anas bin Malik RA.

Masih diceritakan dalam kitab sama, yang dialih bahasakan M  Tarsyi Hawi, ketika itu laki-laki dari pedusunan bernama Zahir. Zahir datang kepada Rasulullah dengan membawa hadiah dari daerah pedusunan. Tatkala Zahir mau pulang, Rasulullah memberinya bekal.

Tentang Zahir, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Zahir adalah teman kita dari pedusunan dan kita sebagai warga Madinah adalah temannya." 

Rasulullah senang kepadanya, padahal Zahir seperti diriwayatkan, seorang laki-laki yang tidak elok raut mukanya. 

Pada suatu hari, Rasulullah mendatangi Zahir yang sedang menjual barang dagangannya. Tiba-tiba Rasulullah memeluknya dari belakang. Zahir

Tidak melihat Rasulullah. Zahir pun berkata. "Siapakah ini?  lepaskan daku!"

Setelah menoleh, Zahir tahu bahwa yang memeluknya itu adalah Rasulullah. Zahir pun tidak membuang kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah.

Masih mendekap Zahir, Rasullulah bersabda. "Siapakah gerangan yang mau membeli hamba sahaya ini?" 

Zahir kaget dan berkata, "Wahai Rasulullah demi Allah Tuhan akan menemukan aku dalam keadaan tidak laku"

Rasulullah pun menghibur Zahir. "Tidak tetapi kau di sisi Allah bukanlah tidak laku." Perawi lain mengatakan "Kau di sisi Allah bernilai tinggi," kata Rasulullah seperti diriwayatkan Ishaq bin Manshur dari Abdurrazzak dari Mamar dari Tsabit yang bersumber dari Anas bin Malik RA.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement