Sabtu 14 Mar 2020 12:07 WIB

Kapan Sangkakala Kiamat Dibunyikan? Ini Sabda Rasulullah

Tak ada yang mengetahui kapan sangkakala akan dibunyikan kelak.

Tak ada yang mengetahui kapan sangkakala akan dibunyikan kelak. Hari Kiamat (ilustrasi)(pulsk.com)
Foto: pulsk.com
Tak ada yang mengetahui kapan sangkakala akan dibunyikan kelak. Hari Kiamat (ilustrasi)(pulsk.com)

REPUBLIKA.CO.ID, Di antara tanda kiamat adalah ditiupnya terompet sangkakala. Tak ada yang tahu pasti kapan sangkakala tersebut akan dibunyikan.  

Gaibnya waktu peniupan sangkakala pun tampak pada hadis Rasulullah SAW. Di dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jarak waktu di antara kedua tiupan adalah empat puluh." Mereka (para sahabat) berta nya, "Apakah empat puluh hari?" Rasulullah SAW menjawab, "Aku tidak mau mengatakannya." Mereka bertanya, "Apakah empat puluh bulan?" Rasulullah SAW menjawab, "Aku menolak untuk mengatakannya." Mereka bertanya lagi, "Apakah empat puluh tahun?" Rasulullah SAW menjawab, "Aku menolak untuk mengatakannya."

Baca Juga

Mereka bertanya lagi, "Apakah empat puluh tahun?" Rasulullah SAW menjawab, "Aku menolak untuk mengatakannya." Lantas, Rasulullah SAW melanjutkan, "Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka bermunculanlah mereka sebagaimana tumbuhnya sayur mayur.

Tiada suatu anggota tubuh pun dari manusia melainkan pasti hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekornya. Maka, disusun kembali kelak di hari kiamat."

Mengenai sangkakala, Allah yang telah menyiapkannya. Dialah yang mengetahui hakikatnya. Syekh Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal Alquran menjelaskan, sangkakala dalam ayat ini disebut Ash-Shuur. Menurut dia, manusia tidak mengetahui nama selain itu. Tidak juga mengetahuinya kecuali akan ditiup. 

Menurut Sayyid Quthb, kita pun tidak perlu menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana caranya. Memikirkan cara peniupannya itu tidak akan menambah keimanan dan tidak berpengaruh terhadap peristiwa itu.

Allah SWT telah memelihara potensi manusia agar tidak digunakan dengan sewenang-wenang. Terlebih, untuk membicarakan apa yang ada di balik perkara gaib ini. Allah SWT telah memberikan kepada kita ukuran tertentu yang bermanfaat. Kita pun jangan lantas menambah-nambahnya.

Lebih jauh, Sayyid Quthb menjelaskan, manusia hanya sebatas membayangkan ash-Shuur sebagai tiupan yang membangkitkan dan mengumpulkan manusia untuk datang berkelompok. Kita bisa membayangkan pemandangan total jumlah manusia sejak pertama hingga terakhir. 

Mereka bangun dan berdiri dari kubur-kubur yang berserakan. Mereka kemudian datang berbondong-bondong dari setiap lembah menuju ke tempat mereka dikumpulkan. 

Kita bisa membayangkan betapa takut manusia. Tidak pernah dalam sejarah manusia berkumpul dalam satu momentum yang sama untuk mem pertanggungjawabkan segala perbuatannya.  

 

 

 

 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement